BAB I
PENDAHULUAN
A. Acara
Pemeriksaan boraks pada kupat plastik.
B. Tujuan
Untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan boraks pada kupat plastik.
C. Metode
· Metode nyala api
· Metode kertas curcuma.
D. Tinjauan Teori
Pengertian makanan merupakan suatu hal yang sangat penting di dalam kebutuhan manusia, makanan yang kita makan bukan saja yang harus memenuhi gizi dan mempunyai bentuk yang menarik, akan tetapi juga harus aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan-bahan kimia yang menyebabkan keracunan atau penyakit. Menurut WHO (Anwar et.al,t.th.l). bahwa makanan adalah semua substansi yang diperlukan tubuh, kecuali air dan obat-obatan dan substansi-substansi yang diperlukan untuk pengobatan.
Sedangkan menurut Depkes RI (Anwar et.al.t,th,h-l). Makanan dan minuman adalah semua bahan baik dalam bentuk alamiah maupun dalam bentuk buatan yang dimakan oleh manusia kecuali air dan obat-obatan.
Menurut Anwar dkk, (t.th,h.i)fungsi makanan sebagai berikut :
1. Makanan panas dan tenaga kepada tubuh.
2. Membangaun jaringan-jaringan tubuh baru, memelihara dan memeperbaiki yang tua.
3. Mengatur proses, proses alamiah, kimiawi atau faali dalam tubuh.
Adapun kegunaan dari makanan adalah :
1. Untuk memberikan tenaga untuk bekerja.
2. Untuk pertumbuhan badan.
3. Untuk melindungi tubuh terhadap beberapa penyakit.
Pengawetan makanan adalah suatu teknik atau tindakan yang digunakan oleh manusia pada bahan makanan sedemikian rupa sehingga bahan tersebut tidak mudah rusak. Menurut F.G. Winarno dan Titi S. Rahayu (1994,h.26) bahwa pengawet makanan yang dapat mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman atau penguraian terhadap maknan yang di sebabkan oleh mikroorganisme.
Tujuan pengawetan menurut F.G. Winarno dan Betty S. Laksmi Janie (1983,h.9) yaitu :
a. Untuk memelihara kesegaran dan untuk mencegah kerusakan makanan atau bahan makanan.
b. Untuk merangsang meningkatkan selera
c. Untuk maksud teknologi, yaitu sebagai bahan pembantu yang digunakan dalam penyiapan atau pengolahan.
d. Untuk mempertahankan gizi dan untuk konsumsi orang tertentu
e. Untuk mengawetkan bahan pangan selama perjalanan dari konsumen dengan menghindarkan perubahan yang tidak diinginkan.
Fungsi pengawetan : Untuk memperpanjang umur simpan atau makanan dan menghambat pertumbuhan mikroba.
Bahan tambahan makanan adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan ingredient khas makanan mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan kedalam makanan untuk maksud teknologi (organoleptik) pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, penyimpanan, atau pengangkutan makanan untuk menghasilkan atau diharapkan menghasilkan (langsung atau tidak langsung). Suatu komponen atau mempengaruhi sifat khas makanan tersebut.
Berdasarkan Permenkes. RI no.722/Menkes/PER/IX/1988 mendefinisikan bahan tambahan seperti yang disusun oleh komisi Codex Alimentarius (F.G. Winarno dan Titi S.Rahayu, 1994,hh.21) bahwa :”Bahan makanan tambahan makanan sebagai bahan yang tidak lazim di konsumsi / ingredient khas makanan, dapat bernilai gizi, ditambahkan kedalam makanan dengan sengaja. Untuk membantu teknik pengolahan makanan (termasuk organoleptik) baik dalam proses pembuatan, pengolahan, penyajian, perlakuan, pengepakan, pengemasan, pengangkutan dan penyimpanan produk makanan olahan, agar menghasilkan atau di harapkan menghasilkan (langsung atau tidak langsung) suatu makanan yang lebih baik atau secara nyata mempengaruhi sifat khas makanan tersebut.
Bahan pengawet yang ditambahkan kedalam makanan mudah rusak atau makanan yang disukai sebagai medium tumbuhnya bakteri atau jamur. Boraks sebagai salah satu bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam makanan yang merupakan garam natrium, khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu dan keramik. Boraks erat kaitannya asam borat dan kemungkinan besar daya pengawetan boraks disebabkan oleh adanya senyawa aktif asam borat (asam karosat)
Dalam permenkes no.722/Menkes/per/1988, memuat : Bahan tambahan makanan dan dicantumkan bahan yang berbahaya adalah formalin, melanin, yellow, rodhamind B, borak.
Boraks tidak dapat digunakan sebab :
1. Diproduksi untuk kepentingan industri non pangan
2. Memiliki sifat akumulatif dalam tubuh ciri makanan mengandung boraks :
· Tidak mudah membusuk sekalipun disimpan dalam keadaan terbuka.
· Tidak terdapat rusak sekalipun disimpan dalam keadaan terbuka.
· Tidak mudah berjamur.
· Teksturnya kenyal.
Pemeriksaan boraks ada 2 metode :
1. Metode nyala api : Metode ini dilihat dari nyala api, bila warna hijau berarti mengandung boraks.
2. Metode kertas curcuma : Metode dengan menggunakan kertas curcuma bila bertemu dengan asam boraks maka akan berwarna merah ceri, bila bertemu dengan basa maka akan berwarna hijau tua.
BAB II
PELAKSANAAN
A. Alat dan Bahan
1. Alat
- Timbangan
- Cawan porselin
- Pisau (bila dibutuhkan)
- Pipet ukur + filler
- Furnace 500oc
- Water bath
- Kompor
- Tabung reaksi.
- Corong gelas
- Pinset / kruistang
- Mortal + penggerus.
- Sendok.
- Pengaduk
2. Bahan
- Sampel
- Larutan kapur jernih dengan konsentrasi 10%
- Larutan HCl 10%
- H2SO4 PEKAT
- Larutan Methana perak
- Amoniak
- Kertas lakmus merah dan biru
- Korek api
- Label
- Kertas saring
B. Cara Kerja
1. Haluskan sample makanan, timbang 20 gram masukkan kedalam cawan porselin.
2. Tambahkan larutan kapur sampai kondisi basa. Untuk mengetahui apakan sample ini menjadi basa, kita gunakan kertas lakmus / kertas indicator universal.
3. Asatkan dengan kompor
4. Pijarkan sampai menjadi abu
5. Abu dibagi menjadi 2 bagian :
a. Menggunakan deteksi nyala api.
Sebagian abu yang berada didalam porselin tambahkan 5ml H2SO4 pekat, aduk sampai menjadi kondisi asam (lakmus biru menjadi merah)
Tambahklan methanol, nyalakan jika terlihat nyala hijau berarti makanan tersebut mengandung boraks.
b. Deteksi dengan kertas curcuma.
Sebagian abu dimasukkan kedalam tabung reaksi
Tambahkan HCl 10% sampai asam dan aduk sampai rata.
Kemudian saring dengan kertas saring.
Celupkan kertas curcuma, kemudian air hasil saringan tadi, setelah itu mungkin ada 2 kemungkinan, yaitu :
· Jika kertas curcuma berwarna kuning berarti hasil sample negative.
· Apabila kertas curcuma berwarna merah maka ditambahkan amoniak 1 tetes, bila berubah warna menjadi hijau biru tua berarti hasil positif
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
Berdasarkan hasil pemeriksaan kandungan boraks pada tahu kuning mentah, yaitu Tahu Asli Sari Delai (Karang sari, Cilongok),dengan menggunakan 2 metode yaitu metode nyala api dan dengan metode kertas curcuma di dapatkan hasil bahwa kandungan sample tahu adalah negative.
B. PEMBAHASAN
Tahu merupakan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat untuk pelengkap lauk pauk, karena rasanya enak dan harga murah. Umumnya para konsumen yang mengkonsumsi bahan makanan jadi maupun bahan makanan yang mentah kurang mempedulikan apakah makanan jadi maupun bahan makanan yang dikonsumsinya aman atau tidak bagi kesehatan tubuh. Mereka lebih mengutamakan harga dan makanan yang rasanya enak, tetapi tidak melihat baik buruknya makanan tersebut bagi kesehatan, oleh karena itu diperlukan adanya pengawasan dan pemeriksaan yang ketat terhadap mutu makanan atau minuman yang dijual di pasar maupun tempat umum lainnya oleh pihak / instansi yang berwenang dalam hal ini Dinas Kesehatan dan sebaiknya perlu diadakan penyuluhan yang merupakan salah satu wujud pengawasan yang dianggap paling baik, terutama terhadap mutu makanan, bahan tambahan makanan / pengawet makanan.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemeriksaan kami di laboratorium di ketahui bahwa :
1. Tidak ada kandungan boraks pada Kupat Plastik Asli Baturaden.
2. Kualitas kandungan Kupat Plastik Asli Baturaden bila di lihat dari kandungan bahan tambahan seperti boraks adalah telah memenuhi syarat kesehatan yaitu sesuai dengan Permenkes R.I no.722/Men.Kes/Per/IX/1988. Tentang bahan makanan tambahan.
B. Saran
1. Sebaiknya dalam memilih Kupat yang tidak kenyal dan dalam memasak Kupat jangan menggunakan Kupat yang berhari-hari.
2. Sebaiknya dalam menjalankan praktikum, mahasiswa harus lebih memperhatikan cara kerja dan diperhatikan kebersihan. Agar dala praktikum tidak terjadi kontaminasi.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, dkk.t.th, Pedoman Bidang Studi Sanitasi Makanan dan Minuman pada Institusi Pendidikan Tenaga Sanitasi, Jakarta : Depkes RI
F.G. Winarno, Titi Sulistiyowati Rahayu, 1994, Bahan Tambahan Makanan dan Minuman dan Kontaminan, Jakarta : Pusaka Sinar Harapan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar