Rabu, 11 Maret 2009

BAB I
PENDAHULUAN


A. Acara
Pemeriksaan warna.
B. Tujuan
Untuk mengetahui pewarna yang diperbolehkan dan pewarna yang tidak diperbolehkan.
C. Metode
Metode yang dilakukan adalah exsperimen (uji coba langsung di laboratorium).
D. Tinjauan Teori
Pewarna sebagai bahan tambahan makanan. Warna merupakan salah satu factor sensorik oleh manusia untuk menilai suatu produk ataupun keadaan lingkungan. Khusus dalam makanan dan minuman warna mempunyai tempat tersendiri yang cukup penting dalam penilaian konsumen. Warna dalam makanan dapat berasal dari warna alami, makanan itu sendiri atau dari bahan pewarna yang ditambahkan kedalam makanan tersebut baik untuk mewarnai makanan yang tadinya tidak berwarna, untuk memberi penampakan yang menarik sebagai pengganti warna asli yang rusak.
Pewarna makanan dibagi menjadi dua yaitu pewarna alami dan pewarna sintetik. Pewarna alami yang diizinkan adalah caramel, betakaroten, klorofil, dan kurkumin, sedangkan pewarna sintetik yang diizinkan adalah eritrosin, ponceau 4R, tartrazin, biru berlian, coklat HT, hijau FCF, kuning FCF, dan merah alura (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.722/Menkes/Per/IX/88).
Pemakaian bahan pewarna dalam makanan bukan suatu hal yang baru dan telah dilakukan oleh produsen-produsen sejak dahulu, tapi dahulu nenek moyang kita menggunakan pewarna alami, misalnya kunyit untuk warna kuning, gula merah untuk warna merah untuk warna coklat dari daun jati. Sedagkan sekarang dengan berkembangnya industri makanan yang baik dalam jumlah maupun jenisnya maka pewarna sintetiklah yang lebih dominan dalam pembuatan makanan.
Pewarna kimia sintetik ini sangat disenangi oleh produsen karena dengan penggunaan sedikit pewarna dapat memberi hasil yang menarik dan cemerlang, daya tahan lama dan mudah diperoleh dalam banyak macam warna. Penggunaan pewarna yang aman pada makanan telah diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI no.722/Menkes/Per/IX/88, yang mengatur mengenai pewarna yang dilarang digunakan dalam makanan, pewarna yang diizinkan serta batas penggunaannya, termasuk penggunaan bahan pewarna alami. Akan tetapi peraturan-peraturan tersebut tidak dipatuhi sehingga banyak terjadi penyalahgunaan dalam pemakaian zat pewarna misalnya zat pewarna yang dilarang atau bukan untuk makanan tetapi digunakan untuk makanan. Salah satu penggunaan pewarna Rhodamin B pada minuman, makanan jajanan dan kosmetik.




BAB II
PELAKSANAAN


A. Alat
  • Kompor
  • Gelas kimia
  • Pinset
  • Pipet ukur + filler
  • Pipet tetes
  • Cawan isat
B. Bahan
  • Sampel
  • Larutan H2O
  • Larutan KHSO4 10%
  • Benag woll
  • Larutan NH4OH 10%
  • Kertas saring
C. Cara Kerja
  1. Sampel, tambahkan H2O ± 50 ml
  2. Tambahkan KHSO4 10% ± 0,5 ml
  3. Panaskan sampai dengan mendidih
  4. Masukkan benang woll, didihkan 10 menit.
  5. Ambil benang woll, cuci sampai bersih.
  6. Benang woll yang telah dibersihkan tetesi dengan larutan NH4OH 10%
  7. Amati
Apabila alami benang berwarna lebih kotor. Pewarna sintetik diperbolehkan benang woll dan cairan berwarna.
Pewarna tidak diperbolehkan benang woll berwarna dan cairan tidak berwarna .




BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan praktikum yang telah kelompok kami lakukan, kami memperoleh hasil bahan pewarna alami dengan ciri benang woll berwarna lebih kotor.
Bahan alami sangat baik digunakan untuk pewarna makanan, akan tetapi banyak produsen lebih memilih pewarna buatan dibandingkan pewarna alami karena pewarna buatan lebih menarik dan harganya terjangkau.
Pewarna adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada makanan. Penggunaan pewarna yang aman pada makanan telah diatur melalui Permenkes RI. No.722/Menkes/Per/IX/88, yang mengatur mengenai pewarna yang dilarang digunakan dalam makanan, pewarna yang diizinkan serta batas penggunaannya termasuk penggunaan bahan pewarna alami.




BAB IV
PENUTUP


A. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang kami lakukan di laboratorium di ambil kesimpulan sebagai berikut.
Sampel percobaan kami yaitu pewarna alami atau yang diperbolehkan yaitu kunyit , akan tetapi kebanyakan masyarakat menggunakan pewarna buatan, karena pewarna buatan mempunyai kelebihan yaitu warna mencolok sehingga dapat menarik peminat pembeli, dibandingkan pewarna alam selain harganya mahal warnanya juga kurang menarik.
B. Saran
  1. Sebaiknya dalam melakukan praktikum lebih baik mahasiswa harus mengetahui prosedur kerja.
  2. Setiap pembelian zat pewarna makanan dan minuman selalu melihat label dan batas terakhir (tanggal kadaluarsa) serta komposisi yang ada pada kemasan.
  3. Sebaiknya dalam mengolah makanan dan minuman menggunakan pewarna alami seperti ekstrak daun pandan untuk warna hijau, kunyit untuk warna kuning dan ekstrak buah-buahan untuk yang pada umumnya lebih aman untuk kesehatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar